MAZMUR 23:1-6
Senin, 16 Agustus 2010
MENJADI MURID TUHAN
Matius 28:19-20
Selama ini mungkin kita keliru menafsirkan perintah agung. Kita berpikir, Yesus hanya memberikan perintah untuk memberitakan injil saja. Tetapi sebenarnya Yesus memberikan perintah kepada gerejaNya untuk menjadikan segala bangsa muridNya. Apakah ada perbedaan antara “percaya” dengan “menjadi murid”?Jelas! orang percaya belum tentu murid Tuhan, tetapi murid Tuhan pastilah orang yang percaya. Lalu apakah cirri-ciri seorang murid Kristus? Melalui Yesaya 50:4 ada dua ciri yang diberikan yaitu:
1.Seorang yang mampu menguasai lidahnya.
Perkataan seorang murid Kristus dapat menyegarkan hati yang lesu, memberikan semangat orang yang patah hati, dan memberikan gairah hidup bagi yang putus asa. Perkataannya penuh kasih dan penghiburan. Dimana saja ia berada ia menyebarkan perkataan yang mengandung berkat.
2.Seorang yang mempunyai telinga yang peka.
Banyak kali orang Kristen mengeluh karena mereka tidak dapat mendengarkan suara Tuhan. kalau mereka mempunyai telinga yang tumpul, bagaimana mereka dapat mendengarkan ajaran Tuhan? Allah mengajar kita melalui berbagai cara :
a.Melalui firman tertulis ( Alkitab ).
b.Melalui kotbah hamba Tuhan.
c.Melalui didikan langsung dari Roh Kudus.
Dan menurut nabi Yesaya, pagi hari adalah saat yang terbaik untuk mempertajam pendengaran kita. Milikilah waktu yang cukup untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan setiap pagi.
Selama ini mungkin kita keliru menafsirkan perintah agung. Kita berpikir, Yesus hanya memberikan perintah untuk memberitakan injil saja. Tetapi sebenarnya Yesus memberikan perintah kepada gerejaNya untuk menjadikan segala bangsa muridNya. Apakah ada perbedaan antara “percaya” dengan “menjadi murid”?Jelas! orang percaya belum tentu murid Tuhan, tetapi murid Tuhan pastilah orang yang percaya. Lalu apakah cirri-ciri seorang murid Kristus? Melalui Yesaya 50:4 ada dua ciri yang diberikan yaitu:
1.Seorang yang mampu menguasai lidahnya.
Perkataan seorang murid Kristus dapat menyegarkan hati yang lesu, memberikan semangat orang yang patah hati, dan memberikan gairah hidup bagi yang putus asa. Perkataannya penuh kasih dan penghiburan. Dimana saja ia berada ia menyebarkan perkataan yang mengandung berkat.
2.Seorang yang mempunyai telinga yang peka.
Banyak kali orang Kristen mengeluh karena mereka tidak dapat mendengarkan suara Tuhan. kalau mereka mempunyai telinga yang tumpul, bagaimana mereka dapat mendengarkan ajaran Tuhan? Allah mengajar kita melalui berbagai cara :
a.Melalui firman tertulis ( Alkitab ).
b.Melalui kotbah hamba Tuhan.
c.Melalui didikan langsung dari Roh Kudus.
Dan menurut nabi Yesaya, pagi hari adalah saat yang terbaik untuk mempertajam pendengaran kita. Milikilah waktu yang cukup untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan setiap pagi.
Sabtu, 14 Agustus 2010
ARTI IMAN DALAM ALKITAB
Iman di dalam bahasa Ibrani artinya “ha emin “ yang berarti “mengamini “. Di dalam Perjanjian Lama IMAN adalah “mermpercayai semua pernyataan Allah sebagai kebenaran “. Kata iman menunjuk pada sikap yang benar terhadap Allah .Orang yang beriman hanya mengandalkan Allah dalam kehidupan nya , bukan kepada yang lain [Mazmur 37:3 ;Amsal 3:5 ;Yeremia 17:5]
Dalam hal ini ,Abraham dapat di jadikansebagai salah satu contohnya . Seluruh hidup Abraham membuktikan bahwa ia sungguh –sungguh percaya kepada Allah . “percayalah ia [Abraham ]kepada TUHAN , maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran “[Kejadian 15 : 6 ] . Ayat ini sering digunakan oleh penulis- penulis Perjanjian Baru sebagai rujukan .
Dalam perjanjian Baru ,kata iman di tuliskan dengan kata benda “pistis “dan kata kerja “pisteuo” dalam bahasa Yunani . Disini , iman dilihat dengan latar belakang karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus . Pusat dari iman adalah karya penyelematan Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri- NYA melalui pengorbanan Yesus Kristus . Dengan demikian dapat dikatakan , iman ialah sikap hidup seseorang yang melepaskan andalan kepada segala usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan , entah itu melalui kebajikan , kebaikan susila atau apa saja ,untuk kemudian sepenuhnya ` hanya mengandalkan Yesus Kristus untuk memperoleh keselamatan. [Kisah 16: 30 ; Yoh 3: 16 ; 5:24]
Dalam kekristenan ,orang yang beriman di sebut orang percaya . Penggunaan istilah ini tersebar di Perjanjian Baru , tidak terbatas pada satu orang penulis saja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman merupakan dasar kekristenan dan merupakan salah satu konsep yang sangat penting . Iman membuang segala kepercayaan pada sumber – sumber kekuatan sendiri .Iman berarti pasrah menyerahkan diri sendiri tanpa syarat kepada rahmat Allah . Iman berarti memegang teguh janji Allah di dalam Kristus Yesus dengan memuatkan seluruh kepercayaan kepada karya Kristus seutuhnya demi keselamatan . Iman juga percaya kepada kekuasaan Roh Kudus demi kekuataan sehari – hari . Iman mencakup kepercayaan yang utuh dan ketaatan mutlak pada kehendak Allah
IMAN YANG TUMBUH
Di dalam Roma 10:10 , Rasul Paulus berkata : “ karena dengan hati orang percaya dan di benarkan , dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan “. Paulus ingin menekankan bahwa iman membutuhkan tempat , yaitu HATI KITA .
Seperti halnya sebuah tanaman membutuhkan tempat untuk bertumbuh dengan baik , demikian pula halnya dengan iman .Ia membutuhkan tempat di dalam hati kita Ini berarti bahwa iman kita bukanlah iman yang statis atau diam saja . Iman kita adalah iman yang dinamis , yang dinyatakan melalui perubahan dalam sikap dan tindakan . Orang yang benar – benar percaya akan berubah karena apa ayang di percayainya . Sebaliknya , orang yang hanya menerima kebenaran dengan pikirannya belum tentu berubah karena kebenaran tersebut .
Untuk menumbuhkan iman , kebenaran harus di olah melalui pikiran kemudian masuk kedalam hati . Hati manusia adalah sumber “mata air” yang memancarkan kehidupan .Kebenaran yang hanya di terima dengan akal pikiran [logika ]tidak mempunyai dampak apa – apa Tetapi , kebenaran yang di terima dengan iman dan masuk kedalam hati akan bekerja dan menghasilkan perubahan. Iman timbul dari pendengaran Kristus [Roma 10:17]. Apa yang di maksud dengar pendengaran itu ? Bagaimana caranya kita dapat mendengarkan apa yang dikatakan Alkitab kepada kita ? Amsal 4:20-21 dapat membantu kita .
PERTAMA , adalah dengan memperhatikan . Itu berarti , kita harus berkonsentrasi . pikiran kita
tidak boleh bercabang dengan memikirkan hal lain .
KEDUA , dengan mengarahkan telinga .Itu artinya , kita harus memiliki sikap rendah hati dan bersedia mendengkan .
KETIGA , dengan menyimpan firman itu di lubuk hati . Artinya , sekalipun firman itu tidak lagi ada di hadapan kita atau di depan mata kita , kita harus tetap merenungkannya di dalam hati kita , firman itu tetap memoengaruhi segala bidang kehidupan kita .
Menentukan iman tidak cukup hanya dengan mendengarkan dan menyimpannya di dalam hati , tetapi juga harus di ucapkan . Harus ada pengakuan yang menekankan hubungan yang erat antara mulut dan hati manusia Apa yang keluar dari mulut manusia . itu pulalah gambaraan hatinya . Yesus berjata : “Karena apa yang di ucapkan mulut meluap dari hati “ [ Matius 12 :34 ] . Dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari – hari dikatakan “ melimpah dari hati “ Dengan kata lain , mulut berfungsi sebagai saluran atau katup pembuangan bagi hati yang penuh berisi . Ap ayang keluar dari katup pembuangan itu menunjukan apa memenuhi hati . Itulah sebabnya orang Kristen perlu menjaga hatinya , karena hati akan dapat mempengaruhi kata –kata yang di ucapkannya .Rasul Paulus menekankan pentingnya untuk percaya dalam hati dan mengucapkan kepercayaantersebut dengan mulut [Roma 10:8-10 ]
IMAN HARUS DINYATAKAN DENGAN PERBUATAN
Kita sudah mempelajari bahwa iman harus di ucapkan melalui mulut . Banyak orang yang mengaku beriman , tetapi sering tidak menyertainya dengan tindakan nyata . Alkitab menjelaskan bahwa iman yang dinyatakan dengan mulut harus diikuti dengan langkah – langkah tindakan yang benar Iman tanpa perbuatan , atau tanpa tindakan yang nyata sesungguhnya mati . Yakobus menulis dengan kata –kata yang keras “ hai manusia yang bebal , maukah engkau mengakui sekarang , bahwa iman tanpa perbuatan iman yang kosong ? “[Yakobus 2:20 ] Rupanya hal ini cukup penting , sehingga dia mengulangi lagi dalam ayat 26 ;sebab seperti tubuh tanpa roh adakah mati , demikianlah iman tanpa perbuatan –perbuatan adalah mati .” Tindakan – tindakan iman merupakan tindakan - tindakan yang mencerminkan kasih , kesetiaan , dan ketaatan kepada Allah dan juga terhadap sesama.@
Dalam hal ini ,Abraham dapat di jadikansebagai salah satu contohnya . Seluruh hidup Abraham membuktikan bahwa ia sungguh –sungguh percaya kepada Allah . “percayalah ia [Abraham ]kepada TUHAN , maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran “[Kejadian 15 : 6 ] . Ayat ini sering digunakan oleh penulis- penulis Perjanjian Baru sebagai rujukan .
Dalam perjanjian Baru ,kata iman di tuliskan dengan kata benda “pistis “dan kata kerja “pisteuo” dalam bahasa Yunani . Disini , iman dilihat dengan latar belakang karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus . Pusat dari iman adalah karya penyelematan Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri- NYA melalui pengorbanan Yesus Kristus . Dengan demikian dapat dikatakan , iman ialah sikap hidup seseorang yang melepaskan andalan kepada segala usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan , entah itu melalui kebajikan , kebaikan susila atau apa saja ,untuk kemudian sepenuhnya ` hanya mengandalkan Yesus Kristus untuk memperoleh keselamatan. [Kisah 16: 30 ; Yoh 3: 16 ; 5:24]
Dalam kekristenan ,orang yang beriman di sebut orang percaya . Penggunaan istilah ini tersebar di Perjanjian Baru , tidak terbatas pada satu orang penulis saja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman merupakan dasar kekristenan dan merupakan salah satu konsep yang sangat penting . Iman membuang segala kepercayaan pada sumber – sumber kekuatan sendiri .Iman berarti pasrah menyerahkan diri sendiri tanpa syarat kepada rahmat Allah . Iman berarti memegang teguh janji Allah di dalam Kristus Yesus dengan memuatkan seluruh kepercayaan kepada karya Kristus seutuhnya demi keselamatan . Iman juga percaya kepada kekuasaan Roh Kudus demi kekuataan sehari – hari . Iman mencakup kepercayaan yang utuh dan ketaatan mutlak pada kehendak Allah
IMAN YANG TUMBUH
Di dalam Roma 10:10 , Rasul Paulus berkata : “ karena dengan hati orang percaya dan di benarkan , dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan “. Paulus ingin menekankan bahwa iman membutuhkan tempat , yaitu HATI KITA .
Seperti halnya sebuah tanaman membutuhkan tempat untuk bertumbuh dengan baik , demikian pula halnya dengan iman .Ia membutuhkan tempat di dalam hati kita Ini berarti bahwa iman kita bukanlah iman yang statis atau diam saja . Iman kita adalah iman yang dinamis , yang dinyatakan melalui perubahan dalam sikap dan tindakan . Orang yang benar – benar percaya akan berubah karena apa ayang di percayainya . Sebaliknya , orang yang hanya menerima kebenaran dengan pikirannya belum tentu berubah karena kebenaran tersebut .
Untuk menumbuhkan iman , kebenaran harus di olah melalui pikiran kemudian masuk kedalam hati . Hati manusia adalah sumber “mata air” yang memancarkan kehidupan .Kebenaran yang hanya di terima dengan akal pikiran [logika ]tidak mempunyai dampak apa – apa Tetapi , kebenaran yang di terima dengan iman dan masuk kedalam hati akan bekerja dan menghasilkan perubahan. Iman timbul dari pendengaran Kristus [Roma 10:17]. Apa yang di maksud dengar pendengaran itu ? Bagaimana caranya kita dapat mendengarkan apa yang dikatakan Alkitab kepada kita ? Amsal 4:20-21 dapat membantu kita .
PERTAMA , adalah dengan memperhatikan . Itu berarti , kita harus berkonsentrasi . pikiran kita
tidak boleh bercabang dengan memikirkan hal lain .
KEDUA , dengan mengarahkan telinga .Itu artinya , kita harus memiliki sikap rendah hati dan bersedia mendengkan .
KETIGA , dengan menyimpan firman itu di lubuk hati . Artinya , sekalipun firman itu tidak lagi ada di hadapan kita atau di depan mata kita , kita harus tetap merenungkannya di dalam hati kita , firman itu tetap memoengaruhi segala bidang kehidupan kita .
Menentukan iman tidak cukup hanya dengan mendengarkan dan menyimpannya di dalam hati , tetapi juga harus di ucapkan . Harus ada pengakuan yang menekankan hubungan yang erat antara mulut dan hati manusia Apa yang keluar dari mulut manusia . itu pulalah gambaraan hatinya . Yesus berjata : “Karena apa yang di ucapkan mulut meluap dari hati “ [ Matius 12 :34 ] . Dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari – hari dikatakan “ melimpah dari hati “ Dengan kata lain , mulut berfungsi sebagai saluran atau katup pembuangan bagi hati yang penuh berisi . Ap ayang keluar dari katup pembuangan itu menunjukan apa memenuhi hati . Itulah sebabnya orang Kristen perlu menjaga hatinya , karena hati akan dapat mempengaruhi kata –kata yang di ucapkannya .Rasul Paulus menekankan pentingnya untuk percaya dalam hati dan mengucapkan kepercayaantersebut dengan mulut [Roma 10:8-10 ]
IMAN HARUS DINYATAKAN DENGAN PERBUATAN
Kita sudah mempelajari bahwa iman harus di ucapkan melalui mulut . Banyak orang yang mengaku beriman , tetapi sering tidak menyertainya dengan tindakan nyata . Alkitab menjelaskan bahwa iman yang dinyatakan dengan mulut harus diikuti dengan langkah – langkah tindakan yang benar Iman tanpa perbuatan , atau tanpa tindakan yang nyata sesungguhnya mati . Yakobus menulis dengan kata –kata yang keras “ hai manusia yang bebal , maukah engkau mengakui sekarang , bahwa iman tanpa perbuatan iman yang kosong ? “[Yakobus 2:20 ] Rupanya hal ini cukup penting , sehingga dia mengulangi lagi dalam ayat 26 ;sebab seperti tubuh tanpa roh adakah mati , demikianlah iman tanpa perbuatan –perbuatan adalah mati .” Tindakan – tindakan iman merupakan tindakan - tindakan yang mencerminkan kasih , kesetiaan , dan ketaatan kepada Allah dan juga terhadap sesama.@
Jumat, 13 Agustus 2010
MENGAPA MANUSIA BEKERJA
2 Tesalonika 3:10
Bekerja adalah bagian dari hidup manusia. Dan keharusan juga bagi kita sebagai orang percaya untuk bekerja. Mengapa?
Pertama, bekerja adalah perintah dari Allah.
Firman Tuhan dengan jelas mengatakan “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu (Kel 20:9). Enam hari adalah waktu yang Tuhan berikan pada kita, dan pada hari ketujuh kita wajib beristirahat. Apabila perintah ini dilanggar maka akan terjadi masalah-2. dan bukannya tanpa alasan Allah memberikan perintah demikian, sebab melalui bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan-2nya.
Kedua, bekerja adalah bagian dari kehidupan alam semesta dan isinya.
Bintang-2 bersinar, matahari memancarkan cahayanya, tumbuh-2an berbuah, binatang-2 melakukan aktifitas sebagaimana mestinya dan manusia juga. Pemazmur berkata,”apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring ditempat perteduhannya,manusiapun keluarlah ke pekerjaanya dan keusahanya sampai petang”(Maz 104:22-23).
Ketiga, bekerja adalah mempermuliakan Allah.
Sebagaimana alam semesta menceritakan kemuliaan Allah demikianlah juga jugalah manusia dapat memuliakan Allah melalui pekerjaannya.
Bekerja adalah bagian dari hidup manusia. Dan keharusan juga bagi kita sebagai orang percaya untuk bekerja. Mengapa?
Pertama, bekerja adalah perintah dari Allah.
Firman Tuhan dengan jelas mengatakan “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu (Kel 20:9). Enam hari adalah waktu yang Tuhan berikan pada kita, dan pada hari ketujuh kita wajib beristirahat. Apabila perintah ini dilanggar maka akan terjadi masalah-2. dan bukannya tanpa alasan Allah memberikan perintah demikian, sebab melalui bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan-2nya.
Kedua, bekerja adalah bagian dari kehidupan alam semesta dan isinya.
Bintang-2 bersinar, matahari memancarkan cahayanya, tumbuh-2an berbuah, binatang-2 melakukan aktifitas sebagaimana mestinya dan manusia juga. Pemazmur berkata,”apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring ditempat perteduhannya,manusiapun keluarlah ke pekerjaanya dan keusahanya sampai petang”(Maz 104:22-23).
Ketiga, bekerja adalah mempermuliakan Allah.
Sebagaimana alam semesta menceritakan kemuliaan Allah demikianlah juga jugalah manusia dapat memuliakan Allah melalui pekerjaannya.
RUMAH TANGGA YANG DIBERKATI
Lukas 1:57-56
Kehendak Allah adalah supaya rumah tangga kita diberkatiNya.
1. Rumah tangga yang didalamnya senantiasa menceritakan kasih & kuasa Tuhan Yesus.
2. Rumah tangga yang tetap taat terhadap Firman Tuhan baik suka maupun duka.
3. Rumah tangga yang senantiasa ada kesehatian didalamnya.
Kehendak Allah adalah supaya rumah tangga kita diberkatiNya.
1. Rumah tangga yang didalamnya senantiasa menceritakan kasih & kuasa Tuhan Yesus.
2. Rumah tangga yang tetap taat terhadap Firman Tuhan baik suka maupun duka.
3. Rumah tangga yang senantiasa ada kesehatian didalamnya.
TUNTUTAN ALLAH
Mikha 6:8
Allah mempunyai tuntutan terhadap umatNya. Apakah tuntutanNya itu?
1. Allah menuntut kita untuk berlaku adil.
2. Allah menuntut kita untuk mencintai kesetiaan.
3. Allah menuntut kita untuk hidup dengan rendah hati.
Allah mempunyai tuntutan terhadap umatNya. Apakah tuntutanNya itu?
1. Allah menuntut kita untuk berlaku adil.
2. Allah menuntut kita untuk mencintai kesetiaan.
3. Allah menuntut kita untuk hidup dengan rendah hati.
PANDANGAN UMUM 1: Israel Sebagai Tanda Akhir Zaman
PUSAT KONFLIK YANG BERKEPANJANGAN
Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua pusat perhatian politik dunia telah beralih dari Eropa dan Amerika ke Timur Tengah. Sampai hari ini berita-berita konflik yang berdampak global lebih banyak dipusatkan di Timur tengah daripada tempat lain di dunia. Wilayah ini telah menjadi pusat konflik yang selalu mampu memberi akibat keseluruh dunia dalam waktu singkat. Sebagaimana telah dinubuatkan Kitab Suci, pada akhirnya konflik
regional yang bersifat global tersebut akan menyalakan
sumbu untuk memicuPerang Dunia Ketiga.
Rangkaian tulisan ini akan menyoroti keberadaan dan peran Israel serta peliputan yang realistis tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi akar permasalahan yang terjadi dewasa ini di Timur Tengah, dan akibatnya yang memberi dampak langsung bagi keamanan dunia. Melalui Kitab Suci Tuhan telah menyatakan hal-hal ini jauh sebelumnya, berupa nubuatan yang disampaikan kepada para nabi-Nya ribuan tahun sebelum peristiwanya sendiri terjadi. Ini juga menjadi bukti keakuratan Kitab Suci, yang selama berabad-abad tetap sanggup untuk menjadi sumber pengetahuan bagi gereja-Nya melalui observasi pemahaman atas setiap kebenaran nubuatan-Nya. Setiap (calon) The Covenant Holder mutlak untuk mengerti kebenaran ini mengingat setiap misi profetik yang kita lakukan selalu berurusan dengan keberadaan Israel umumnya dan Yahudi khususnya, melalui penggenapan Visi Global Elohim atas wilayah Pusat Bumi dan Titik Pusat Bumi. Juga untuk menuntun dan menentukan bagaimana kita harus bersikap terhadap kemungkinan terjadinya pertikaian yang lebih besar di wilayah Timur Tengah, terutama pada periode terakhir menjelang saat terjadinya penggenapan atas nubuat Yehezkiel 38 dan 39 (bd. Artikel: Harmageddon).
KETIDAKSTABILAN TIMUR TENGAH
Lahirnya Negara Israel Raya yang berdaulat di tahun 1948 merupakan babak baru dalam peta politik dunia, khususnya di Timur Tengah. Israel kemudian menjadi permasalahan utama selain masalah minyak bumi, keduanya kemudian menjadi dua faktor penyebab terpenting atas masuknya berbagai kepentingan dan kekuatan global di Timur Tengah. Minyak bumi yang melimpah di Timur Tengah, yang menjadi komoditi utama bagi semua negara di dunia, telah berubah menjadi senjata politik internasional bagi banyak kekuatan dan aliansi global. Semua itu semakin menghadirkan ketidakstabilan politik keamanan di Timur Tengah terlebih lagi ketika eksistensi dan peran Israel kemudian menjadi masalah internasional. Turunnya kekuatan-kekuatan politik dan militer internasional secara langsung juga menambah kompleksnya permasalahan. Penegakkan kedaulatan Israel di Tanah Palestina juga merupakan bagian dari rangkaian strategi Zionisme "Barat" untuk tujuan mengamankan sumber-sumber dan jalur distribusi minyak bumi, sekaligus sebagai "basis" kepentingan Barat di seluruh wilayah Arab. Sampai hari ini, ketika kita berbicara mengenai kestabilan politik di Timur Tengah, maka mau tidak mau kita juga akan berurusan dengan keberadaan penting suatu negara kecil dengan peran besar di wilayah tersebut, Israel.
Sejak lahirnya, Israel terus-menerus ditentang oleh negara-negara disekitarnya (negara-negara Arab dan mereka yang beraliansi dengan mereka karena persamaan agama). Percobaan pengerahan kekuatan untuk menyerang negara kecil ini telah tak terhitung banyaknya sejak 1948, baik oleh kekuatan-kekuatan militer resmi dari suatu negara atau kelompok negara, sampai serangan-serangan terorisme dari kelompok-kelompok militant Islam yang seakan tidak akan pernah berhenti mengisi hari-hari di Israel. Tekanan demi tekanan internasional bahkan ancaman-ancaman embargo eksport Israel tetap tidak mampu menggoyahkan bangsa ini dari keputusan politiknya yang tidak kompromi terhadap segala bentuk terorisme. Uniknya, sejarah mencatat, bahwa Israel selalu dapat mengatasi setiap permasalahannya, baik politik maupun militer, baik ekonomi, kependudukan ataupun "pendudukan" Israel atas daerah-daerah "penyangga" tertentu seperti Lebanon Selatan dan Dataran Tinggi Golan (bd. Artikel Dataran Tinggi Golan), dengan cara-cara yang mengherankan. Sepak terjang mereka seakan terus-menerus mencengangkan para pengamat politik yang sarat dengan setumpuk prediksi dan pengamatan yang terlambat. Tidak dapat dipungkiri bahwa Israel dewasa ini adalah "kartu as" bagi terciptanya kestabilan politik diseluruh Timur Tengah bahkan dunia. Terbukti bahwa konsensus keamanan Timur Tengah yang dibuat tanpa melibatkan Israel sebagaimana yang dilakukan oleh OKI (Organisasi konprensi Islam) adalah harapan yang tidak mungkin mewujudkan apa-apa. Bahkan konsensus internasional setingkat Perjanjian Oslo I dan II yang melibatkan Israel secara aktif juga tidak mampu memberikan jaminan apa-apa. Israel tetap berperan sebagai kunci penentu kestabilan ataupun ketidakstabilan, kalau perlu mereka akan sengaja menciptakan ketidakstabilan internasional untuk tujuan kestabilan territorial. Kekuatan penentu ini membuat seluruh Negara Arab tunduk dan patuh atas dominasi Israel atas seluruh kestabilan Timur Tengah. Dan karena predikat kartu as ini, Israel kemudian menjadi fokus utama keamanan Timur Tengah bahkan dunia sampai hari ini. Kitab Suci telah menubuatkan hal ini ribuan tahun sebelumnya:
Pada waktu itu Tuhan akan mengangkat pula tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-Nya yang tertinggal di Asyur dan di Mesir, di Patros, di Etiopia dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di pulau-pulau di laut. Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi. Kecemburuan Efraim akan berlalu, dan yang menyesakkan Yehuda akan lenyap. Efraim tidak akan cemburu lagi kepada Yehuda, dan Yehuda tidak akan menyesakkan Efraim lagi. Tetapi mereka akan terbang ke barat, ke atas lereng gunung Filistin, bersama-sama mereka akan menjarah bani Timur; mereka akan merampas Edom dan Moab, dan orang Amon akan
patuh kepada mereka. (Yesaya 11:11-14).
SUMBER AWAL PERTIKAIAN
Seluruh isi dari Kitab Suci kita terfokus pada satu lokasi geografi yang khusus, suatu daerah yang disekitar Laut Mediteranian, yang memiliki bermacam-macam nama, seperti: Tanah Kanaan. Tanah Israel, Tanah Palestina, atau sering juga disebut Tanah Suci. Pada zaman Patriarch (Abraham, Ishak, Yakub), wilayah ini dikenal sebagai tanah orang Kanaan. Yoshua kemudian mengalahkan mereka dan menjadikan wilayah itu sebagai Tanah Israel. Israel berpegang kepada janji Elohim-Nya yang telah memberikan Tanah Kanaan ini menjadi milik pusaka 12 suku Israel sejak zaman Abraham. Raja Daud kemudian membeli wilayah orang Yebus, tempat pengirikan Arauna (lokasi Gunung Moriah) yang kemudian menjadi pusat kota Yerusalem setelah berdirinya Bait Suci Yahudi (dibangun oleh Raja Salomo). Sejak saat itu Yerusalem menjadi bagian yang tak perpisahkan dari keberadaan Israel (Israel tanpa Yerusalem adalah bukan Israel; Yerusalem tanpa Israel adalah bukan Yerusalem). Israel adalah Yerusalem dan Yerusalem adalah Israel (bd. Artikel: Yerusalem Pusat Bumi).
Secara kronologis penguasaan Israel di wilayah itu bermula pada janji Tuhan kepada Abraham (Kejadian 18), kemudian atas perintah Tuhan, Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak, di Gunung Moriah, dan seribu tahun kemudian Raja Daud membeli lokasi itu dari orang Yebus (Arauna), selanjutnya Raja Salomo membangun Bait Suci Pertama di lokasi tersebut. Dari catatan Midras (buku suci Yahudi), di lokasi ini juga Tuhan mengambil debu dan tanah untuk dibentuk menjadi manusia Adam. Juga lokasi pendirian mezbah pertama oleh Nuh (sebelum mezbah di Ararat), dan lokasi dimana Yakub melihat langit terbuka dan ada tangga untuk malaikat turun naik. Kita lihat, betapa pentingnya arti Gunung Moriah bagi orang Israel. Dan melalui penjabaran pengetahuan Visi Global Elohim maka kita mengerti bahwa bukan kebetulan saja lokasi tersebut terus-menerus dinyatakan dalam penggambaran yang sama di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun perjanjian Baru, karena lokasi puncak Gunung Moriah ini adalah Titik Pusat Bumi (bd. MS: Pusat Bumi dan 12 Wilayah Bangsa-bangsa).
Setelah robohnya Bait Suci Pertama oleh Nebukadnezar, orang Yahudi kemudian membangunnya kembali, dan diselesaikan oleh Raja Herodes (Romawi) menjadi Bait Suci Kedua di lokasi yang sama. Tahun 70 masehi Bait Suci Kedua ini dirobohkan kembali oleh perintah Jenderal Titus (Romawi) karena pemberontakan orang Yahudi. Dan sejak saat itu tempat tersebut menjadi reruntuhan puing-puing selama kurang lebih 600 tahun. Dalam periode silih bergantinya pendudukan bangsa-bangsa atas Yerusalem lokasi Gunung Moriah kembali mendapat perhatian. Antara tahun 600 s/d 700 Yerusalem berada dibawah pendudukan bangsa Arab, dimana mereka membersihkan reruntuhan Bait Suci dan membangun dua mesjid di Gunung Moriah, Al-Aqsa dan Dome Of The Rock (Mesjid Umar). Sejak saat itulah pertikaian dimulai dan berlanjut terus bahkan sampai dengan hari ini. Issu-nya bukan lagi hanya pada keberadaan status Gunung Moriah tetapi telah melebar jauh sampai kepada masalah legalitas eksistensi Israel diatas Tanah Palestina, terutama sejak lahirnya Mandat Inggris tahun 1948 yang menyatakan berdirinya Negara berdaulat Israel Raya di Tanah Palestina. Sementara bangsa Yahudi, di pihak lain, menyatakan tuntutan yang sama atas Tanah Kanaan dan Gunung Moriah yang telah "dibeli" oleh leluhur mereka Raja Daud, mereka mempertanyakan legalitas kedua mesjid diatas lokasi reruntuhan Bait Suci mereka.
Pertikaian etnis, ras, dan religi, ini secara langsung menjadi andil terbesar atas penyebab ketidakstabilan seluruh Timur Tengah. Yahudi, Kristen/Katolik, dan Islam telah mengambil bagian masuk ke wilayah politik untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan religius mereka di Yerusalem. Disini konflik hebat bermula, dengan melibatkan begitu banyak Negara di dunia dengan segala alasan ikatan dan kepentingannya (untuk sebanyak mungkin mengambil keuntungan), terutama ketika minyak bumi menjadi "barang mewah" karena semakin langkanya sumber-sumber dunia. Kita juga dapat memasukkan kekayaan ratusan jenis kandungan mineral dan uranium di Laut Mati, yang nilainya diperkirakan melebihi nilai kekayaan Amerika Serikat dan Eropa yang dijadikan satu. Harta karun yang telah lama dilirik oleh kekuatan-kekuatan besar di dunia. Tanah Israel benar-benar menggenapi sebutan dirinya sebagai tanah yang melimpah dengan "susu dan madu" dimana bangsa-bangsa akan memperebutkannya, sebagaimana telah dinubuatkan.
YAHUDI DAN ISRAEL
Secara geografis, fakta-fakta yang terdapat di dalam Kitab Suci terpusat pada suatu wilayah Tanah Palestina. Nama Palestina sendiri berarti "negeri orang Filistine", yang bukan berkonotasikan Negara tetapi lebih kepada wilayah tempat masyarakat Filistine berdiam, mereka juga pendatang di tanah kosong ini. Mereka berasal dari banyak bangsa (bd. Kejadian 10) dan datang bermukim secara tetap di beberapa wilayah di tanah tersebut setelah periode Abraham yang pertama. Orang Samaria juga bermukim di tanah yang sama. Keberadaan orang Israel dimulai pada zaman Abraham, sampai mereka (generasi Yakub) kemudian pergi ke Mesir dan menjadi budak selama 430 tahun. Kemudian dibebaskan oleh Musa dan kembali ke tanah tersebut oleh Yoshua. Setelah pemerintahan yang terpecah (Yehuda dan Israel) dibawah anak Raja Salomo, Israel kembali menjadi budak di Babelonia. Raja Nebukadnezar baru membebaskan mereka 70 tahun kemudian. Orang Israel yang kembali ke Tanah Palestina kemudian disebut sebagai "orang Yahudi" tanpa melihat suku mereka. Penyebutan "Yahudi" ini lebih berkonotasikan agama dan tradisi budaya mereka, sedangkan nama "Israel" berkonotasi kepada asal bangsa atau negara mereka. Pengertian ini terus berlanjut sampai hari ini. Di awal Perjanjian Baru, Rasul Paulus dari suku Banyamin menyebut dirinya seorang Yahudi (KIS 21:39). Sejak tahun 1948 penyebutan "orang Israel" lebih diartikan sebagai warga negara, baik berasal dari keturunan Israel maupun dari keturunan Arab dan Druse, juga dari bangsa-bangsa lain yang menjadi warga negara Israel.
Pentingnya kita membedakan Israel dan Yahudi karena nubuatan Kitab Suci berurusan dengan kedua hal spesifik tersebut. Selain itu, kalau kita ke Israel dan bertanya kepada seseorang Israel yang bukan beragama Yahudi: "apakah kamu Yahudi?" , maka ia akan menjawab: "bukan", walaupun ia seorang keturunan dari salah satu suku Israel. Penyebutan Israel berkaitan dengan negaranya, sedangkan penyebutan Yahudi berkaitan dengan agamanya. Pembedaan ini akan sangat membantu kita untuk mengerti keberadaan mereka, dan bagaimana atau secara apa Tuhan berurusan dengan bangsa ini. Penggenapan nubuat firman Tuhan tentang lahirnya kembali Negara Israel Raya setelah 2500 tahun diaspora, misalnya, bukan pekerjaan Tuhan secara langsung, tetapi menjadi bagian dari target Zionisme International yang berada dibawah naungan Organisasi Illuminati, suatu bentuk organisasi kepanjangan tangan Iblis yang akan menggenapi target menjelang penutupan akhir zaman, terutama menggenapi nubuat kitab Wahyu 13:7-8 (kita akan membahas ini kemudian). Sedangkan bangkitnya Yahudi di ujung akhir zaman ini merupakan penggenapan nubuat yang secara langsung dikerjakan oleh Tuhan sendiri dalam kerangka menghadirkan kembali Bait-Nya dan ibadahnya (sebagaimana dinyatakan dalam kitab Daniel 9:27 dan 2 Tesalonika 2) untuk penyelesaian dan penutupan selama-lamanya Perjanjian Daging dengan Israel. Selanjutnya Israel dan Yahudi akan berjalan menuju penggenapan kitab Roma 11 & Ibrani 8 dan, 10 dimana mereka akan masuk kedalam Perjanjian Baru (perjanjian roh) sesaat menjelang kedatangan Yeshua Hamasiah kembali.
PERJANJIAN DAGING/PHISIK
Disisi lain, kita juga harus melihat keberadaan Israel di dalam cara pandang yang obyektif seturut dengan nubuatan firman Tuhan mengenai mereka, positif maupun negatif. Bila kita hanya mengikuti kecenderungan untuk melihat mereka dari sisi yang positif secara nubuatan, kita akan kehilangan banyak pengertian penting yang berkaitan dengan Israel dan status mereka dihadapan Elohim, juga otoritas mereka di bumi ini. Firman Tuhan cukup banyak menggambarkan keberadaan orang Israel di akhir zaman secara negatif, dimana penyesatan-penyesatan terjadi atas mereka, dimana okultisme telah masuk kedalam ibadah-ibadah mereka, juga dimana mereka akan mengambil alih kepemimpinan dunia dalam seluruh jalur kehidupan manusia di bumi ini, melalui lahirnya seorang pemimpin dunia, Antikris.
Salah satu unsur penting untuk mengerti Israel secara obyektif adalah pengetahuan tentang posisi mereka sebagai umat yang terikat di dalam ikatan Perjanjian Daging/phisik (Flesh/material Covenant) (bd. MS: Perjanjian Manusia). Pengertian ini akan membawa kita kepada suatu ketentuan utama Tuhan yang hanya berlaku atas orang Yahudi. Prinsip tersebut lahir karena ikatan perjanjian, yaitu bahwa seluruh bumi ini berada dibawah otoritas Yahudi. Orang Yahudi telah menjadi ahli waris Elohim karena statusnya sebagai "anak" Elohim secara daging/phisik. Sehingga apa yang diwariskan Tuhan kepada mereka adalah semua keberadaan phisik (material), baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang ada di bumi ini. Prinsip ini adalah ketentuan hukum Elohim yang secara tegas dinyatakan Tuhan di dalam Kitab Ulangan 32 dimana seluruh bumi dibagi menjadi 12 wilayah dan setiap wilayah diberi nama setiap suku Israel. Pemberian nama atas suatu wilayah berarti penyerahan otoritas atas wilayah tersebut (bd. MS: 12 Wilayah Bangsa-bangsa; Yerusalem Pusat Bumi).
Karena hanya mereka yang terikat perjanjian material dengan Tuhan, maka hanya mereka juga yang berhak atas warisan phisik Elohim. Kita dapat membandingkan keberadaan kita (gereja Tuhan) yang terikat perjanjian spiritual dengan Tuhan (bd. MS: Perjanjian Baru 1&2). Yang mewarisi segala sesuatu yang spiritual di muka bumi ini, Semua otoritas spiritual di bumi telah diwariskan-Nya kepada "anak" Elohim secara roh, yaitu gereja-Nya. Dan bila berbicara mengenai kwalitas, maka perjanjian Tuhan dengan gereja-Nya berada jauh lebih mulia karena didasari oleh janji-janji yang lebih tinggi (bd. Ibrani 8:6) (bd. MS: Hukum Roh). Prinsip yang terlihat (material) adalah sementara dan yang tidak terlihat (spiritual) adalah bersifat kekal (bd. 2Korintus 4:18) dapat lebih memberikan gambaran mengenai kwalitas hubungan perjanjian kita dengan Tuhan.
Fakta bahwa nubuat Kitab Suci adalah ya dan amin dapat kita lihat di ujung akhir zaman ini. Bahwa semua penguasaan dunia, apakah itu politik, sosial, teknologi, keuangan/ekonomi, bahkan strategi militer, dan agama-agama dunia, dikuasai dan dikendalikan oleh Yahudi sebagai pemegang otoritas bumi (kita akan membahasnya lebih lanjut). Disini posisi Amerika Serikat dan juga Uni Eropa adalah bagian dari keberadaan Yahudi (melalui peta penyebaran/diaspora Yahudi kita akan mendapatkan gambaran lengkap bahwa USA & Eropa, juga sebagian Russia, adalah "keturunan" dari 10 suku Israel yang "hilang" sejak ribuan tahun). Ini juga merupakan penjelasan mengenai mengapa Rasul Paulus yang diutus hanya di wilayah Asia Kecil padahal ia memegang mandat Tuhan untuk memberitakan Injil Keselamatan atas bangsa-bangsa (the gentiles) (kita juga akan membahasnya kemudian).
Dengan pengetahuan ini kita akan mengerti mengapa Iblis dan setan-setannya (dalam hirarkhi-hirarkhi puncaknya) memakai orang Yahudi (bukan the gentiles) sebagai alat mereka untuk menguasai dunia. Bahkan Antikris yang akan muncul juga dipastikan sebagai keturunan Yahudi, dan bukan dari bangsa-bangsa lain yang jelas tidak memiliki otoritas phisik atas bumi menurut hukum Elohim (bd. MS: Antikris). (rp)
(BERSAMBUNG, PANDANGAN UMUM 2)
________________________________________CherubimsOnline.com 2008
Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua pusat perhatian politik dunia telah beralih dari Eropa dan Amerika ke Timur Tengah. Sampai hari ini berita-berita konflik yang berdampak global lebih banyak dipusatkan di Timur tengah daripada tempat lain di dunia. Wilayah ini telah menjadi pusat konflik yang selalu mampu memberi akibat keseluruh dunia dalam waktu singkat. Sebagaimana telah dinubuatkan Kitab Suci, pada akhirnya konflik
regional yang bersifat global tersebut akan menyalakan
sumbu untuk memicuPerang Dunia Ketiga.
Rangkaian tulisan ini akan menyoroti keberadaan dan peran Israel serta peliputan yang realistis tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi akar permasalahan yang terjadi dewasa ini di Timur Tengah, dan akibatnya yang memberi dampak langsung bagi keamanan dunia. Melalui Kitab Suci Tuhan telah menyatakan hal-hal ini jauh sebelumnya, berupa nubuatan yang disampaikan kepada para nabi-Nya ribuan tahun sebelum peristiwanya sendiri terjadi. Ini juga menjadi bukti keakuratan Kitab Suci, yang selama berabad-abad tetap sanggup untuk menjadi sumber pengetahuan bagi gereja-Nya melalui observasi pemahaman atas setiap kebenaran nubuatan-Nya. Setiap (calon) The Covenant Holder mutlak untuk mengerti kebenaran ini mengingat setiap misi profetik yang kita lakukan selalu berurusan dengan keberadaan Israel umumnya dan Yahudi khususnya, melalui penggenapan Visi Global Elohim atas wilayah Pusat Bumi dan Titik Pusat Bumi. Juga untuk menuntun dan menentukan bagaimana kita harus bersikap terhadap kemungkinan terjadinya pertikaian yang lebih besar di wilayah Timur Tengah, terutama pada periode terakhir menjelang saat terjadinya penggenapan atas nubuat Yehezkiel 38 dan 39 (bd. Artikel: Harmageddon).
KETIDAKSTABILAN TIMUR TENGAH
Lahirnya Negara Israel Raya yang berdaulat di tahun 1948 merupakan babak baru dalam peta politik dunia, khususnya di Timur Tengah. Israel kemudian menjadi permasalahan utama selain masalah minyak bumi, keduanya kemudian menjadi dua faktor penyebab terpenting atas masuknya berbagai kepentingan dan kekuatan global di Timur Tengah. Minyak bumi yang melimpah di Timur Tengah, yang menjadi komoditi utama bagi semua negara di dunia, telah berubah menjadi senjata politik internasional bagi banyak kekuatan dan aliansi global. Semua itu semakin menghadirkan ketidakstabilan politik keamanan di Timur Tengah terlebih lagi ketika eksistensi dan peran Israel kemudian menjadi masalah internasional. Turunnya kekuatan-kekuatan politik dan militer internasional secara langsung juga menambah kompleksnya permasalahan. Penegakkan kedaulatan Israel di Tanah Palestina juga merupakan bagian dari rangkaian strategi Zionisme "Barat" untuk tujuan mengamankan sumber-sumber dan jalur distribusi minyak bumi, sekaligus sebagai "basis" kepentingan Barat di seluruh wilayah Arab. Sampai hari ini, ketika kita berbicara mengenai kestabilan politik di Timur Tengah, maka mau tidak mau kita juga akan berurusan dengan keberadaan penting suatu negara kecil dengan peran besar di wilayah tersebut, Israel.
Sejak lahirnya, Israel terus-menerus ditentang oleh negara-negara disekitarnya (negara-negara Arab dan mereka yang beraliansi dengan mereka karena persamaan agama). Percobaan pengerahan kekuatan untuk menyerang negara kecil ini telah tak terhitung banyaknya sejak 1948, baik oleh kekuatan-kekuatan militer resmi dari suatu negara atau kelompok negara, sampai serangan-serangan terorisme dari kelompok-kelompok militant Islam yang seakan tidak akan pernah berhenti mengisi hari-hari di Israel. Tekanan demi tekanan internasional bahkan ancaman-ancaman embargo eksport Israel tetap tidak mampu menggoyahkan bangsa ini dari keputusan politiknya yang tidak kompromi terhadap segala bentuk terorisme. Uniknya, sejarah mencatat, bahwa Israel selalu dapat mengatasi setiap permasalahannya, baik politik maupun militer, baik ekonomi, kependudukan ataupun "pendudukan" Israel atas daerah-daerah "penyangga" tertentu seperti Lebanon Selatan dan Dataran Tinggi Golan (bd. Artikel Dataran Tinggi Golan), dengan cara-cara yang mengherankan. Sepak terjang mereka seakan terus-menerus mencengangkan para pengamat politik yang sarat dengan setumpuk prediksi dan pengamatan yang terlambat. Tidak dapat dipungkiri bahwa Israel dewasa ini adalah "kartu as" bagi terciptanya kestabilan politik diseluruh Timur Tengah bahkan dunia. Terbukti bahwa konsensus keamanan Timur Tengah yang dibuat tanpa melibatkan Israel sebagaimana yang dilakukan oleh OKI (Organisasi konprensi Islam) adalah harapan yang tidak mungkin mewujudkan apa-apa. Bahkan konsensus internasional setingkat Perjanjian Oslo I dan II yang melibatkan Israel secara aktif juga tidak mampu memberikan jaminan apa-apa. Israel tetap berperan sebagai kunci penentu kestabilan ataupun ketidakstabilan, kalau perlu mereka akan sengaja menciptakan ketidakstabilan internasional untuk tujuan kestabilan territorial. Kekuatan penentu ini membuat seluruh Negara Arab tunduk dan patuh atas dominasi Israel atas seluruh kestabilan Timur Tengah. Dan karena predikat kartu as ini, Israel kemudian menjadi fokus utama keamanan Timur Tengah bahkan dunia sampai hari ini. Kitab Suci telah menubuatkan hal ini ribuan tahun sebelumnya:
Pada waktu itu Tuhan akan mengangkat pula tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-Nya yang tertinggal di Asyur dan di Mesir, di Patros, di Etiopia dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di pulau-pulau di laut. Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi. Kecemburuan Efraim akan berlalu, dan yang menyesakkan Yehuda akan lenyap. Efraim tidak akan cemburu lagi kepada Yehuda, dan Yehuda tidak akan menyesakkan Efraim lagi. Tetapi mereka akan terbang ke barat, ke atas lereng gunung Filistin, bersama-sama mereka akan menjarah bani Timur; mereka akan merampas Edom dan Moab, dan orang Amon akan
patuh kepada mereka. (Yesaya 11:11-14).
SUMBER AWAL PERTIKAIAN
Seluruh isi dari Kitab Suci kita terfokus pada satu lokasi geografi yang khusus, suatu daerah yang disekitar Laut Mediteranian, yang memiliki bermacam-macam nama, seperti: Tanah Kanaan. Tanah Israel, Tanah Palestina, atau sering juga disebut Tanah Suci. Pada zaman Patriarch (Abraham, Ishak, Yakub), wilayah ini dikenal sebagai tanah orang Kanaan. Yoshua kemudian mengalahkan mereka dan menjadikan wilayah itu sebagai Tanah Israel. Israel berpegang kepada janji Elohim-Nya yang telah memberikan Tanah Kanaan ini menjadi milik pusaka 12 suku Israel sejak zaman Abraham. Raja Daud kemudian membeli wilayah orang Yebus, tempat pengirikan Arauna (lokasi Gunung Moriah) yang kemudian menjadi pusat kota Yerusalem setelah berdirinya Bait Suci Yahudi (dibangun oleh Raja Salomo). Sejak saat itu Yerusalem menjadi bagian yang tak perpisahkan dari keberadaan Israel (Israel tanpa Yerusalem adalah bukan Israel; Yerusalem tanpa Israel adalah bukan Yerusalem). Israel adalah Yerusalem dan Yerusalem adalah Israel (bd. Artikel: Yerusalem Pusat Bumi).
Secara kronologis penguasaan Israel di wilayah itu bermula pada janji Tuhan kepada Abraham (Kejadian 18), kemudian atas perintah Tuhan, Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak, di Gunung Moriah, dan seribu tahun kemudian Raja Daud membeli lokasi itu dari orang Yebus (Arauna), selanjutnya Raja Salomo membangun Bait Suci Pertama di lokasi tersebut. Dari catatan Midras (buku suci Yahudi), di lokasi ini juga Tuhan mengambil debu dan tanah untuk dibentuk menjadi manusia Adam. Juga lokasi pendirian mezbah pertama oleh Nuh (sebelum mezbah di Ararat), dan lokasi dimana Yakub melihat langit terbuka dan ada tangga untuk malaikat turun naik. Kita lihat, betapa pentingnya arti Gunung Moriah bagi orang Israel. Dan melalui penjabaran pengetahuan Visi Global Elohim maka kita mengerti bahwa bukan kebetulan saja lokasi tersebut terus-menerus dinyatakan dalam penggambaran yang sama di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun perjanjian Baru, karena lokasi puncak Gunung Moriah ini adalah Titik Pusat Bumi (bd. MS: Pusat Bumi dan 12 Wilayah Bangsa-bangsa).
Setelah robohnya Bait Suci Pertama oleh Nebukadnezar, orang Yahudi kemudian membangunnya kembali, dan diselesaikan oleh Raja Herodes (Romawi) menjadi Bait Suci Kedua di lokasi yang sama. Tahun 70 masehi Bait Suci Kedua ini dirobohkan kembali oleh perintah Jenderal Titus (Romawi) karena pemberontakan orang Yahudi. Dan sejak saat itu tempat tersebut menjadi reruntuhan puing-puing selama kurang lebih 600 tahun. Dalam periode silih bergantinya pendudukan bangsa-bangsa atas Yerusalem lokasi Gunung Moriah kembali mendapat perhatian. Antara tahun 600 s/d 700 Yerusalem berada dibawah pendudukan bangsa Arab, dimana mereka membersihkan reruntuhan Bait Suci dan membangun dua mesjid di Gunung Moriah, Al-Aqsa dan Dome Of The Rock (Mesjid Umar). Sejak saat itulah pertikaian dimulai dan berlanjut terus bahkan sampai dengan hari ini. Issu-nya bukan lagi hanya pada keberadaan status Gunung Moriah tetapi telah melebar jauh sampai kepada masalah legalitas eksistensi Israel diatas Tanah Palestina, terutama sejak lahirnya Mandat Inggris tahun 1948 yang menyatakan berdirinya Negara berdaulat Israel Raya di Tanah Palestina. Sementara bangsa Yahudi, di pihak lain, menyatakan tuntutan yang sama atas Tanah Kanaan dan Gunung Moriah yang telah "dibeli" oleh leluhur mereka Raja Daud, mereka mempertanyakan legalitas kedua mesjid diatas lokasi reruntuhan Bait Suci mereka.
Pertikaian etnis, ras, dan religi, ini secara langsung menjadi andil terbesar atas penyebab ketidakstabilan seluruh Timur Tengah. Yahudi, Kristen/Katolik, dan Islam telah mengambil bagian masuk ke wilayah politik untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan religius mereka di Yerusalem. Disini konflik hebat bermula, dengan melibatkan begitu banyak Negara di dunia dengan segala alasan ikatan dan kepentingannya (untuk sebanyak mungkin mengambil keuntungan), terutama ketika minyak bumi menjadi "barang mewah" karena semakin langkanya sumber-sumber dunia. Kita juga dapat memasukkan kekayaan ratusan jenis kandungan mineral dan uranium di Laut Mati, yang nilainya diperkirakan melebihi nilai kekayaan Amerika Serikat dan Eropa yang dijadikan satu. Harta karun yang telah lama dilirik oleh kekuatan-kekuatan besar di dunia. Tanah Israel benar-benar menggenapi sebutan dirinya sebagai tanah yang melimpah dengan "susu dan madu" dimana bangsa-bangsa akan memperebutkannya, sebagaimana telah dinubuatkan.
YAHUDI DAN ISRAEL
Secara geografis, fakta-fakta yang terdapat di dalam Kitab Suci terpusat pada suatu wilayah Tanah Palestina. Nama Palestina sendiri berarti "negeri orang Filistine", yang bukan berkonotasikan Negara tetapi lebih kepada wilayah tempat masyarakat Filistine berdiam, mereka juga pendatang di tanah kosong ini. Mereka berasal dari banyak bangsa (bd. Kejadian 10) dan datang bermukim secara tetap di beberapa wilayah di tanah tersebut setelah periode Abraham yang pertama. Orang Samaria juga bermukim di tanah yang sama. Keberadaan orang Israel dimulai pada zaman Abraham, sampai mereka (generasi Yakub) kemudian pergi ke Mesir dan menjadi budak selama 430 tahun. Kemudian dibebaskan oleh Musa dan kembali ke tanah tersebut oleh Yoshua. Setelah pemerintahan yang terpecah (Yehuda dan Israel) dibawah anak Raja Salomo, Israel kembali menjadi budak di Babelonia. Raja Nebukadnezar baru membebaskan mereka 70 tahun kemudian. Orang Israel yang kembali ke Tanah Palestina kemudian disebut sebagai "orang Yahudi" tanpa melihat suku mereka. Penyebutan "Yahudi" ini lebih berkonotasikan agama dan tradisi budaya mereka, sedangkan nama "Israel" berkonotasi kepada asal bangsa atau negara mereka. Pengertian ini terus berlanjut sampai hari ini. Di awal Perjanjian Baru, Rasul Paulus dari suku Banyamin menyebut dirinya seorang Yahudi (KIS 21:39). Sejak tahun 1948 penyebutan "orang Israel" lebih diartikan sebagai warga negara, baik berasal dari keturunan Israel maupun dari keturunan Arab dan Druse, juga dari bangsa-bangsa lain yang menjadi warga negara Israel.
Pentingnya kita membedakan Israel dan Yahudi karena nubuatan Kitab Suci berurusan dengan kedua hal spesifik tersebut. Selain itu, kalau kita ke Israel dan bertanya kepada seseorang Israel yang bukan beragama Yahudi: "apakah kamu Yahudi?" , maka ia akan menjawab: "bukan", walaupun ia seorang keturunan dari salah satu suku Israel. Penyebutan Israel berkaitan dengan negaranya, sedangkan penyebutan Yahudi berkaitan dengan agamanya. Pembedaan ini akan sangat membantu kita untuk mengerti keberadaan mereka, dan bagaimana atau secara apa Tuhan berurusan dengan bangsa ini. Penggenapan nubuat firman Tuhan tentang lahirnya kembali Negara Israel Raya setelah 2500 tahun diaspora, misalnya, bukan pekerjaan Tuhan secara langsung, tetapi menjadi bagian dari target Zionisme International yang berada dibawah naungan Organisasi Illuminati, suatu bentuk organisasi kepanjangan tangan Iblis yang akan menggenapi target menjelang penutupan akhir zaman, terutama menggenapi nubuat kitab Wahyu 13:7-8 (kita akan membahas ini kemudian). Sedangkan bangkitnya Yahudi di ujung akhir zaman ini merupakan penggenapan nubuat yang secara langsung dikerjakan oleh Tuhan sendiri dalam kerangka menghadirkan kembali Bait-Nya dan ibadahnya (sebagaimana dinyatakan dalam kitab Daniel 9:27 dan 2 Tesalonika 2) untuk penyelesaian dan penutupan selama-lamanya Perjanjian Daging dengan Israel. Selanjutnya Israel dan Yahudi akan berjalan menuju penggenapan kitab Roma 11 & Ibrani 8 dan, 10 dimana mereka akan masuk kedalam Perjanjian Baru (perjanjian roh) sesaat menjelang kedatangan Yeshua Hamasiah kembali.
PERJANJIAN DAGING/PHISIK
Disisi lain, kita juga harus melihat keberadaan Israel di dalam cara pandang yang obyektif seturut dengan nubuatan firman Tuhan mengenai mereka, positif maupun negatif. Bila kita hanya mengikuti kecenderungan untuk melihat mereka dari sisi yang positif secara nubuatan, kita akan kehilangan banyak pengertian penting yang berkaitan dengan Israel dan status mereka dihadapan Elohim, juga otoritas mereka di bumi ini. Firman Tuhan cukup banyak menggambarkan keberadaan orang Israel di akhir zaman secara negatif, dimana penyesatan-penyesatan terjadi atas mereka, dimana okultisme telah masuk kedalam ibadah-ibadah mereka, juga dimana mereka akan mengambil alih kepemimpinan dunia dalam seluruh jalur kehidupan manusia di bumi ini, melalui lahirnya seorang pemimpin dunia, Antikris.
Salah satu unsur penting untuk mengerti Israel secara obyektif adalah pengetahuan tentang posisi mereka sebagai umat yang terikat di dalam ikatan Perjanjian Daging/phisik (Flesh/material Covenant) (bd. MS: Perjanjian Manusia). Pengertian ini akan membawa kita kepada suatu ketentuan utama Tuhan yang hanya berlaku atas orang Yahudi. Prinsip tersebut lahir karena ikatan perjanjian, yaitu bahwa seluruh bumi ini berada dibawah otoritas Yahudi. Orang Yahudi telah menjadi ahli waris Elohim karena statusnya sebagai "anak" Elohim secara daging/phisik. Sehingga apa yang diwariskan Tuhan kepada mereka adalah semua keberadaan phisik (material), baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang ada di bumi ini. Prinsip ini adalah ketentuan hukum Elohim yang secara tegas dinyatakan Tuhan di dalam Kitab Ulangan 32 dimana seluruh bumi dibagi menjadi 12 wilayah dan setiap wilayah diberi nama setiap suku Israel. Pemberian nama atas suatu wilayah berarti penyerahan otoritas atas wilayah tersebut (bd. MS: 12 Wilayah Bangsa-bangsa; Yerusalem Pusat Bumi).
Karena hanya mereka yang terikat perjanjian material dengan Tuhan, maka hanya mereka juga yang berhak atas warisan phisik Elohim. Kita dapat membandingkan keberadaan kita (gereja Tuhan) yang terikat perjanjian spiritual dengan Tuhan (bd. MS: Perjanjian Baru 1&2). Yang mewarisi segala sesuatu yang spiritual di muka bumi ini, Semua otoritas spiritual di bumi telah diwariskan-Nya kepada "anak" Elohim secara roh, yaitu gereja-Nya. Dan bila berbicara mengenai kwalitas, maka perjanjian Tuhan dengan gereja-Nya berada jauh lebih mulia karena didasari oleh janji-janji yang lebih tinggi (bd. Ibrani 8:6) (bd. MS: Hukum Roh). Prinsip yang terlihat (material) adalah sementara dan yang tidak terlihat (spiritual) adalah bersifat kekal (bd. 2Korintus 4:18) dapat lebih memberikan gambaran mengenai kwalitas hubungan perjanjian kita dengan Tuhan.
Fakta bahwa nubuat Kitab Suci adalah ya dan amin dapat kita lihat di ujung akhir zaman ini. Bahwa semua penguasaan dunia, apakah itu politik, sosial, teknologi, keuangan/ekonomi, bahkan strategi militer, dan agama-agama dunia, dikuasai dan dikendalikan oleh Yahudi sebagai pemegang otoritas bumi (kita akan membahasnya lebih lanjut). Disini posisi Amerika Serikat dan juga Uni Eropa adalah bagian dari keberadaan Yahudi (melalui peta penyebaran/diaspora Yahudi kita akan mendapatkan gambaran lengkap bahwa USA & Eropa, juga sebagian Russia, adalah "keturunan" dari 10 suku Israel yang "hilang" sejak ribuan tahun). Ini juga merupakan penjelasan mengenai mengapa Rasul Paulus yang diutus hanya di wilayah Asia Kecil padahal ia memegang mandat Tuhan untuk memberitakan Injil Keselamatan atas bangsa-bangsa (the gentiles) (kita juga akan membahasnya kemudian).
Dengan pengetahuan ini kita akan mengerti mengapa Iblis dan setan-setannya (dalam hirarkhi-hirarkhi puncaknya) memakai orang Yahudi (bukan the gentiles) sebagai alat mereka untuk menguasai dunia. Bahkan Antikris yang akan muncul juga dipastikan sebagai keturunan Yahudi, dan bukan dari bangsa-bangsa lain yang jelas tidak memiliki otoritas phisik atas bumi menurut hukum Elohim (bd. MS: Antikris). (rp)
(BERSAMBUNG, PANDANGAN UMUM 2)
________________________________________CherubimsOnline.com 2008
Minggu, 08 Agustus 2010
MAJU BERSAMA KRISTUS
Mikha 4:5
Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.
Saudara, kekristenan adalah sebuah perjalanan menuju sasaran. Seperti pernyataan Paulus, “aku tidak berlari tanpa tujuan, dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul”(1 Kor 9:26). Pikirkan adakah lomba lari tanpa ada arah/sasaran yang dituju? Adakah petinju yang memukul sembarangan? Tidak ada bukan? Begitu juga dalam kekristenan kita, Allah telah menetapkan sasaran dan garis akhir. Rencana Allah bagi gerejaNya adalah kedewasaan penuh (Ef 4:13), inilah kehendak Allah bagi setiap orang percaya.
Tiga hal yang harus dicamkan bahwa keberhasilan untuk mengakhiri pertandingan iman dengan baik adalah :
1. Mengarahkan pandangan pada Kristus dan melupakan apa yang ada dibelakang ( Fil 3:13-14).
2. Mempunyai tekad untuk mengiring Yesus sampai mati.
3. Menyelesaikan pekerjaanNya yang dipercayakan kepada kita.
Jangan hidup pada masa lalu! Keberhasilan maupun kegagalan yang pernah anda alami biarlah terkubur bersama dengan sang waktu. Tetapi anda, arahkan pandangan anda hanya pada Yesus.
Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.
Saudara, kekristenan adalah sebuah perjalanan menuju sasaran. Seperti pernyataan Paulus, “aku tidak berlari tanpa tujuan, dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul”(1 Kor 9:26). Pikirkan adakah lomba lari tanpa ada arah/sasaran yang dituju? Adakah petinju yang memukul sembarangan? Tidak ada bukan? Begitu juga dalam kekristenan kita, Allah telah menetapkan sasaran dan garis akhir. Rencana Allah bagi gerejaNya adalah kedewasaan penuh (Ef 4:13), inilah kehendak Allah bagi setiap orang percaya.
Tiga hal yang harus dicamkan bahwa keberhasilan untuk mengakhiri pertandingan iman dengan baik adalah :
1. Mengarahkan pandangan pada Kristus dan melupakan apa yang ada dibelakang ( Fil 3:13-14).
2. Mempunyai tekad untuk mengiring Yesus sampai mati.
3. Menyelesaikan pekerjaanNya yang dipercayakan kepada kita.
Jangan hidup pada masa lalu! Keberhasilan maupun kegagalan yang pernah anda alami biarlah terkubur bersama dengan sang waktu. Tetapi anda, arahkan pandangan anda hanya pada Yesus.
Sabtu, 07 Agustus 2010
Jumat, 06 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)










